Biografi dan Sejarah Kepenulisan A.A navis

 A.A Navis 



Biodata singkat

A.A Navis merupakan seorang sastrawan, kritikus budaya, serta politikus Indonesia yang memiliki nama Lengkap Ali Akbar Navis. Seorang putra dari pasangan Navis Sutan marajo dan Sawiyah.  Ia lahir di Indonesia tepatnya di kota Padangpanjang Sumatera Barat pada tanggal 17 November 1924. Dan wafat pada tanggal 22 maret 2003 di padang, Indonesia. Ia merupakan anak sulung dari limabelas saudaranya. Menikah dengan Aksari yasin pada tahun 1957 dan dalam pernikahannya dikaruniai tujuh orang anak yaitu; Dini Akbari, Lusi bebasari, Dedi Andika, lenggogini, Gemala Ranti, Rinto amanda, dan Rika anggraini. berkat karya-karyanya A.A Navis diberi julukan sebagai “ pencemooh nomor wahid” dan “ sastrawan satiris ulung.” 


Sejarah kepenulisan

Awal mula A.A Navis memiliki kesenangan terhadap Sastra adalah Ketika Ia berada di Rumah. Orang tuanya pada waktu itu berlangganan majalah Panji dan Pedoman Masyarakat. Majalah-majalah tersebut berisikan cerita pendek dan cerita bersambung disetiap edisinya. Setiap hari Navis membaca majalah itu dan lama kelamaan ia menyukainya. Hal tersebut diketahui oleh ayahnya, yang kemudian memberikan uang kepada Navis agar navis bisa membeli buku kegemarannya. Itu adalah modal untuk Navis dalam dunia karang-mengarang di kemudian hari. Dan saat ini Navis telah berhasil menulis karya-karya yang dikenal oleh Masyarakat Indonesia bahkan sampai pada tingkat Internasional. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Robohnya Surau Kami dan Saraswati Si Gadis dalam Sunyi.

Kepenulisan 

A.A Navis merupakan seorang sastrawan yang berhasil menulis beberapa karya sastra yang dikenal oleh banyak orang. Diantara karyanya yang terkenal adalah cerita pendek yang berjudul “ Robohnya Surau kami.” 

Buku “ Robohnya Surau kami” merupakan karyanya yang terbit pada tahun 1956. Buku ini berisi 10 cerpen yaitu; robohnya surau kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi helm, datangnya dan perginya, Angin dari Gunung, Menanti kelahiran, Penolong, dan Dari Masa Ke Masa.

Dalam buku tersebut A.A Navis Menggambarkan wajah Indonesia pada Zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia pada saat itu namun masih terasa relevan sampai saat ini. 

Dalam cerpen “ Robohnya Surau Kami” bercerita tentang kisah tragis seorang kakek Bernama Haji soleh seorang penjaga Surau ( masjid berukuran kecil) yang mati menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi (si pembual). Dalam cerita Ajo sidi kakek soleh adalah seorang yang taat beragama, segala ibadah ia lakukan dari ibadah A-Z. Namun pada saat meninggal dunia Tuhan tidak memasukkan Haji Soleh ke dalam Surga melainkan ke dalam neraka. Dari cerita Ajo Sidi ini, mungkin kakek penjaga surau itu merasa tersinggung dan terpukul. Karena selama hidupnya, kakek itu hanya fokus beribadah menyembah Tuhan dan berbakti kepada Tuhan, sampai-sampai ia tidak memiliki seorang Istri serta anak cucu. Kakek itu merasa marah dan tertekan lalu akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. 

 


Posting Komentar

0 Komentar